Mencintaimu adalah hal yang bukan biasa biasa bagiku. Namun, mencoba menginginkanmu kembali menjadi hal yang sulit kugapai.
Bagiku, mencintai layaknya angin yang meniupkan api, bisa menyalakan tapi juga bisa melenyapkan.
Kepergianmu dikala itu memberikan warna berharga bagi hatiku. Ketika perasaan dicoba untuk menerima dengan pasrah apapun yang akan terjadi.
Senyummu menjadi candu kerinduan untukku, walaupun ragamu tak pernah bisa ku gapai lagi. Entah kenapa masih tercipta dalam angan bayang semu. Andai? Sesuatu yang terjadi bisa lebih berani diungkapkan mungkin langit tidak akan segelap ini. Badai kabut terjang yang menutupi cerahnya timpaan sinar matahari.
Untuk semua rasa, untuk segala lelah, dengan senja yang menggelayut di ujung langit cantiknya, kukuburkan dengan dalam apapun asaku kala itu.
Menjadi pasir lautan yang berulang kali diterjang ombang. Kokoh, mengikis, terseok. Dengan senyum yang mengembang mencoba mengikhlaskan apapun tanpa membebani siapapun. Mencoba berdamai dengan hati.
Angin yang tertiup mengisahkan pada ombak pantai, bahwa aku pernah disini. Mengenangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar