Kamis, 20 Desember 2018

Takdir

Apakah malam terlihat lebih menarik dengan gemerlap bintang dan bulan yang menghiasi langit? Ketika gemuruh bunga api mewarnai covernya. Ataukah lebih menyedihkan dengan hujan yang datang secara tiba tiba?
Tidak usahlah berpura pura untuk selalu tersenyum ketika hati tidak bersahabat, bahkan langitpun tau bagaimana cara memperlakukannya.
Indahkan harimu dengan senyum terindahmu.
Tempat yang sama, dengan segala kemegahan dunianya.
Dengan orang yang sama, sekali saja atau mungkin ini untuk yang terakhir, bersamamu.
Setelah itu, semuanya tinggal menjalani takdir.
Takdir yang datang menyapa dengan tidak memperdulikan perasaanmu.
Mau kamu suka atau tidak, takdir itu tetap datang.
Ketika hati sudah lelah sekali untuk menjalani segala hari, pantaskah diri untuk mengeluh?
Hanya berteman dengan sepi, dan mencoba berdamai dengan diri.
Kau tau? Aku mungkin hanya butuh kawan untuk sedekar berbicara, bercerita tentang banyak hal. Apapun itu. Hanya butuh kawan.

Jumat, 14 Desember 2018

Just the way you are

Sayup sayup lantunan syair hijaz Rasulullah terdengar menggema di seluruh ruangan.
Rasa perih menusuk dengan sakitnya.
Mematikan asa yang telah terkumpul.
Dering suara handpone pun berbunyi.
Kaget ketika ucapan itu keluar dari mulutmu, benar. Sungguh benar memang.
Biar tidak merepotkan keluargamu atas penyakit yang kamu alami. Berbakti dan taatlah pada seseorang yang hadir dalam hidupmu kelak. Tapi jika perkataannya menjauhkanmu dari Allah, jangan kau taati.
Entah apa yang bisa ku balas atas perlakuanmu selama ini.
The one and only, my family.

Selasa, 11 Desember 2018

Miracle

Ancaman.
Terdengar begitu mengerikan.
Hanya ada dua kemungkinan, karena rasa takut yang amat mendalam ataukah merasa diri paling benar.
Bagaimana rasa tidak percaya itu tiba tiba hadir menyelinap disaat telah banyak waktu yang terlewatkan?
Bagaimana tuduhan selalu datang bertubi tubi pada orang yang sama sekali tidak melakukan?
Bagaimana sumpah serapah itu harus dilakukan oleh orang yang tidak tau apa apa?
Apakah prasangka bisa lebih baik dari realita yang ada?
Apakah selamanya omongan orang terlihat maha benar?
Bagaimana mengembalikan kepercayaan orang ketika mendapat tuduhan?
Siapkah dengan segala keadaan itu?
Ditunjukan yang terbaik atau diberikan hati yang ikhlas.
Nyatanya sampai sekarang keikhlasan itu belum ada dan berusaha untuk mendapatkannya hanya membuat perih.
Mencoba berdamai dengan hati atas apapun yang terjadi.
Entah ancaman maupun tuduhan.
Karena rasa sakit itu pasti ada.
Lelah dan sakit itu akan selalu dominan bagi orang yang berjuang.

Senja kala itu

Senja.
Warna kemerahanmu selalu menjadi sorot pandang mata yang apik.
Pesonamu selalu menjadi tambatan hati bagi orang orang yang rindu.
Suatu saat, kita mungkin akan saling melupakan dengan pahit getir kehidupan kita masing masing.
Adakah jiwa yang masih mengharap?
Adakah hati yang pantas untu berbagi?
Adakah kisah yang pantas untuk diceritakan?
Adakah sejuta kenangan yang patut untut dikenangkan?
Adakah segala rasa yang patut untuk diperbincangkan?
Apabila ada satu kesempatan dalam hidup, kesempatan apa yang diinginkan?
Apabila ada satu pengorbanan dalam hidup, pengorbanan seperti apa yang kau korbankan?
Apa itu definisi bahagia bagi sebagian orang?
Apakah hanya dengan tersenyum seseorang pantas disebut dengan kata bahagia?
Apakah dengan bertemu banyak orang seseorang bisa dikatakan bahagia?
Sementara hati, hanya diindahkan begitu saja.
Hati,
Apa apa yang terjadi dalam hidup selalu melibatkannya.
Tergores sedikit banyak lukanya.
Teriris sedikit mengucur kemana mana.
Dari perasaan yang selalu mencoba mengulum senyum tanpa seorang pun tau apa arti dibalik senyuman itu.

Senin, 10 Desember 2018

Kehilangan

Mencintaimu adalah hal yang bukan biasa biasa bagiku. Namun, mencoba menginginkanmu kembali menjadi hal yang sulit kugapai.
Bagiku, mencintai layaknya angin yang meniupkan api, bisa menyalakan tapi juga bisa melenyapkan.
Kepergianmu dikala itu memberikan warna berharga bagi hatiku. Ketika perasaan dicoba untuk menerima dengan pasrah apapun yang akan terjadi.
Senyummu menjadi candu kerinduan untukku, walaupun ragamu tak pernah bisa ku gapai lagi. Entah kenapa masih tercipta dalam angan bayang semu. Andai? Sesuatu yang terjadi bisa lebih berani diungkapkan mungkin langit tidak akan segelap ini. Badai kabut terjang yang menutupi cerahnya timpaan sinar matahari.
Untuk semua rasa, untuk segala lelah, dengan senja yang menggelayut di ujung langit cantiknya, kukuburkan dengan dalam apapun asaku kala itu.
Menjadi pasir lautan yang berulang kali diterjang ombang. Kokoh, mengikis, terseok. Dengan senyum yang mengembang mencoba mengikhlaskan apapun tanpa membebani siapapun. Mencoba berdamai dengan hati.
Angin yang tertiup mengisahkan pada ombak pantai, bahwa aku pernah disini. Mengenangmu.